Selasa, 23 Agustus 2011

Fungsi Musik Untuk Pendidikan


Oleh Sandie Gunara
Abstrak
Manfaat pendidikan musik bagi anak, hal ini dipandang perlu untuk diungkapkan, karena pada dasarnya mengetahui manfaat pendidikan musik bagi anak merupakan bagian yang sangat menunjang dalam rangka mengisi proses kehidupan di masa depan. Musik tidak hanya dipandang sebagai hiburan semata, musik tidak akan dianggap lagi kurang memberikan kontribusi untuk kehidupan masa datang, musik tidak akan dianggap lagi sebagai mata pelajaran yang tidak penting, dan anggapan-anggapan negatif lainnya. Ironisnya anggapan negatif terhadap pendidikan musik pun dialami oleh para pendidik musik di daerah (terutama guru SD) sehingga dari kurangnya pemahaman para pendidik musik tentang hakikat pendidikan musik merupakan salah satu penyebab kurangnya penghargaan generasi muda terhadap pelajaran musik. Sebagai akibatnya, banyak siswa (yang nantinya akan menjadi bagian dari komunitas masyarakat) yang kurang menganggap pelajaran musik sebagai suatu pelajaran yang tidak perlu diperhatikan secara serius dan seringkali dikatakan sebagai pelajaran yang membosankan.      
Pendahuluan
Pendidikan musik merupakan sebuah disiplin ilmu yang tidak terlalu baru sebagai bagian dari disiplin psikologi dan musikologi. Tetapi di Indonesia pendidikan musik masih dirasa sebagai disiplin ilmu yang masih baru. Walaupun demikian, penelitian-penelitian mengenai pendidikan musik ataupun penelitian mengenai musik implikasinya terhadap pendidikan, telah banyak dihasilkan. Hal ini merupakan sebuah gambaran kepedulian dan konsistensi para pendidik musik yang sedang tumbuh pada konsep holistik tentang musik, tidak hanya aspek motorik dan afeksi saja tetapi juga aspek kognisi.
Pokok bahasan yang akan diulas pada artikel ini merupakan pengantar secara garis besar kepada pembaca mengenai manfaat-manfaat pendidikan musik bagi anak-anak yang telah banyak diteliti oleh para pendidik musik. Karena dari pengalaman penulis di daerah, banyak siswa termasuk gurunya (guru SD di daerah) yang kurang memahami manfaat dari pendidikan musik, pendidikan musik tidak perlu dianggap serius, sehingga dari kurangnya pemahaman tersebut proses pengajaran musik menjadi seadanya saja, dan “sekesampainya” guru saja. Sebagai akibatnya, siswa yang nantinya akan menjadi individu-individu masyarakat kritis menjadi kurang menghargai pelajaran musik, akhirnya menjadi masyarakat yang kurang kritis terhadap kesenian yang masuk dan kurang menghargai kesenian miliknya. Berdasarkan persoalan itulah, penulis sebagai orang yang bergelut dan yang konsisten terhadap pendidikan musik dirasa perlu untuk mengungkapkan manfaat pendidikan musik bagi anak. Apa saja manfaat yang terkandung dari pendidikan musik? Berikut pemaparan sederhana yang akan penulis ungkapkan dari hasil penelaahan literature dan hasil penelitian para pakar pendidikan musik.
Fungsi Pendidikan Musik Dalam Kehidupan
Menurut sejarahnya, musik telah digunakan sejak jaman Yunani untuk kepentingan penyembuhan, komunikasi, relaksasi dan kesenangan (baca: hiburan). Bahkan sebelum lahir, kita sadar akan detak jantung ibu dan pada masa kecil kita merasa tenang sekali ketika dinyanyikan lagu nina bobo. Setiap hari kita sering mendengar bunyi atau ritme dan bahkan bunyi tersebut dapat kita temukan di alam bebas seperti nyanyian burung yang sedang berkicau.
Musik bagaikan sebuah kekuatan, yang dapat menciptakan emosi manusia, misalnya musik dimainkan untuk kebahagiaan pada acara pernikahan, musik dimainkan untuk rasa takut pada film horor dan musik dimainkan untuk terapi sehingga tercipta suasana relaksasi, berkurangnya rasa stress, dengan demikian mental manusia menjadi sehat.
Selain pemaparan di atas, ternyata musik juga dapat menyeimbangkan otak manusia, yakni otak kiri dan otak kanan. Sehingga diharapkan dalam menentukan sikap maupun keputusan terhadap suatu masalah yang dijumpai, manusia tidak hanya menggunakan logika saja, melainkan diimbangi dengan perasaan agar lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan.  Berdasarkan asumsi itulah, maka musik dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah umum. Dengan dimasukkannya musik ke dalam kurikulum sekolah, maka pelaksanaannya lebih ditekankan pada proses pembelajaran dari pada produk. Dengan penekanan pada proses pembelajaran, maka tujuan pembelajaran musik tidak mengharapkan siswa pandai menyanyi dan pandai memainkan alat musik, tetapi musik dijadikan sarana ekspresi, imajinasi, kreativitas dan apresiasi karya musik.
Kemampuan-kemampuan seperti bekerja dalam tim, berkomunikasi, sikap menghargai, berpikir kreatif, perilaku yang tenang, berimajinasi, disiplin, kemampuan belajar dan mencipta, semuanya dipelajari dan ditumbuhkan dalam pembelajaran musikHal utama fungsi pendidikan musik dalam kehidupan  bagi anak-anak adalah untuk menolong mereka mencapai kesuksesan dalam bersosial dan hidup.
Seperti yang diungkapkan oleh Droscher (2007) dalam makalahnya bahwa, pengajaran musik, berpikir kreatif, memecahkah masalah, berani mengambil resiko, berkerja dalam tim dan berkomunikasi dengan baik, merupakan alat yang tepat untuk kebutuhan hidup di masa depan. Jika kita tidak mendorong siswa-siswa pada kemampuan-kemampuan tersebut melalui pengajaran musik saat ini, bagaimana kita bisa mengharapkan mereka untuk sukses dalam kompetisi hidup di masa yang akan datang?
 Dengan belajar musik, anak dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan dalam pekerjaan seperti bekerja dalam tim dan disiplin. Hal ini bisa diaplikasikan pada saat penyajian musik ensamble, semua anggota harus dapat bekerja sama untuk menciptakan bunyi yang diharapkan dan latihan secara regular pun sangat diperlukan.
Masih banyak manfaat pendidikan musik yang mungkin saja belum terungkap, tetapi yang jelas idealnya anak-anak kita ingin mempunyai pengalaman sukses sepanjang hidupnya. Akhirnya, musik merupakan alat yang kuat untuk meningkatkan dan memperkaya kemampuan hidup manusia. Pendidikan musik harus terus didorong dan generasi muda kita harus memperoleh keuntungan dari manfaat ini. Intelegensi yang tinggi melalui meningkatnya berpikir kreatif, menyelesaikan masalah, dan mempunyai persepsi tinggi terhadap kehidupan termasuk perilaku yang baik, keinginan yang kuat dalam mencapai sesuatu, sikap menghargai dan lain-lain.
Pendidikan Musik Di Sekolah
Pada kurikulum saat ini, terdapat sejumlah mata pelajaran yang salah satunya mata pelajaran Seni dan Budaya. Jika diamati uraian bahasannya, mata pelajaran Seni dan Budaya  ini terdiri atas bahan ajaran pendidikan seni rupa, seni musik, seni tari dan seni teater.
Mata pelajaran ini disajikan mulai dari kelas 1 SD sampai dengan kelas III SMA, dengan alokasi waktu mungkin sekitar 2 jam pelajaran setiap minggu. Hanya 2 jam saja pelajaran seni diberikan di sekolah. Dengan alokasi waktu yang disediakan dan bahan ajar yang beragam, pada umumnya para guru tidak dapat menyelengarakan pembelajaran sebagaimana mestinya. Apalagi kalau di sekolah tersebut hanya terdapat guru seni musik saja, maka nyaris pelajaran seni yang lain akan ditinggalkan. Disamping itu, ada diantara mereka yang berpendapat bahwa pendidikan seni merupakan pelajaran yang tidak penting, sangat disayangkan dengan pendapat itu. Alasannya karena mata pelajaran pendidikan seni tidak di-UAN-kan.
Padahal apabila ditelaah lebih lanjut, menurut para ahli, pendidikan seni merupakan sarana yang paling efektif bagi pendidikan kreativitas. Pendidikan seni juga dapat menjadi sarana pendidikan afektif untuk menyalurkan emosi dan ekspresi anak. Selain itu, pendidikan seni dapat menjadi pendidikan keterampilan. Jadi secara konseptual, pendidikan seni sangat besar peranannya bagi proses perkembangan anak, terutama di Sekolah Dasar.
Sebagai materi pembelajaran, mata pelajaran Seni dan Budaya perlu di pahami guru, mau dibawa kemana anak didik kita sehingga tercapai arah yang tepat. Eisner dan Chapman mengatakan bahwa, arah atau pendekatan seni baik itu seni rupa, seni musik, seni tari ataupun seni teater, secara umum dapat dipilah menjadi dua pendekatan, yakni seni dalam pendidikan dan pendidikan melalui seni.
Pertamaseni dalam pendidikan. Secara hakiki materi seni penting diberikan kepada anak. Maksudnya adalah, keahlian melukis, menggambar, menyanyi, menari, memainkan musik dan keterampilan lainnya perlu ditanamkan kepada anak dalam rangka pengembangan kesenian dan pelestarian kesenian. Seni dalam pendidikan ini sejalan dengan konsep pendidikan yaitu sebagai proses pembudayaan yang dilakukan dengan upaya mewariskan atau menanamkan nilai-nilai dari generasi tua kepada generasi berikutnya. Oleh sebab itu, seni dalam pendidikan merupakan upaya kita sebagai pendidik seni dan juga lembaga yang menaungi kita untuk mewariskan, melestarikan, dan mengembangkan berbagai jenis kesenian yang ada terutama kesenian daerah/lokal.
Sangat beragam sekali kesenian dan kerajinan yang berkembang di Indonesia ini. Dari mulai kesenian dan kerajinan tradisional sampai pada kesenian modern, banyak terhampar di depan mata kita. Misalnya batik, ukiran, anyaman, lukisan, pantun sunda, pupuh sunda, gamelan degung, tari tayub dan tari bedaya sampai pada berbagai jenis seni kontemporer. Dari kekayaan budaya kita tersebut apabila tidak diwariskan kepada anak melalui jalur pendidikan maka kita akan menunggu saatnya kesenian tersebut akan punah.
Dari uraian di atas, maka seni dalam pendidikan merupakan sebuah program yang mengharapkan siswa pandai dalam bidang seni. Pandai menggambar, pintar menyanyi, terampil dalam menari, pandai memainkan alat musik dan sebagainya.  Memang terasa sangat sulit sekali apabila diterapkan pada sekolah umum, karena harus mempertimbangkan kualifikasi guru terhadap bidang seni tertentu, waktu yang cukup, dan sarana- prasarana yang memadai. Apabila dibahas lebih lanjut tentang kesulitan tersebut tidak akan tuntas bila kita hanya “mengumpat” saja . Untuk mengatasinya harus mulai dari pemangku kebijakan sampai pada pelaksana kebijakan dan harus mulai dari sekarang.
Kedua, pendidikan melalui seni. Plato menyatakan bahwa seni seharusnya menjadi dasar pendidikan. Dari pendapat ini kita bisa beranggapan bahwa sesungguhnya seni atau pendidikan seni mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang pendidikan secara umum.
Konsep pendidikan melalui seni juga dikemukan oleh Dewey bahwa seni seharusnya menjadi alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan bukannya untuk kepentingan seni itu sendiri. Maka melalui pendidikan melalui seni tercapai tujuan pendidikan yaitu keseimbangan rasional dan emosional, intelaktual dan kesadaran estetis.
Merujuk pada konsep pendidikan melalui seni, maka pelaksanaannya lebih ditekankan pada proses pembelajaran dari pada produk. Dengan penekanan pada proses pembelajaran, maka sasaran belajar pendidikan seni tidak mengharapkan siswa pandai menyanyi, pandai memainkan musik, pandai menggambar dan terampil menari. Melainkan sebagai sarana ekspresi, imajinasi dan berkreativitas. Kalau memang ternyata melalui pendidikan seni dapat menghasilkan seniman maka itu merupakan dampak saja.
Dengan penekanan pada proses pembelajaran, maka guru pun dapat melaksanakannya. Kekurangan kemampuan guru dalam hal pendidikan seni dapat ditutup  dengan penggunaan berbagai media pembelajaran yang memadai.
Lalu bagaimana dengan pendidikan musik? Tidak jauh beda seperti yang telah dipaparkan di atas, pendidikan musik khususnya banyak sekali memberikan kontribusi bagi perkembangan dan keseimbangan rasional, emosional intelektual dan kesadaran estetis. Banyak sekali hasil penelitian yang memberikan informasi kepada kita tentang pentingnya pendidikan seni khususnya musik bagi perkembangan anak, berikut beberapa hasil penelitian yang penulis rangkum dari Bulletin of the Council for Research in Music Education,diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Pendidikan musik/pendidikan seni, memudahkan perkembangan anak dalam bahasa dan kecepatan membaca.
  2. aktivitas bermusik/berkesenian sangat bernilai bagi pengalaman anak dalam berekspresi dan lain-lain.
  3. aktivitas bermusik/berkesenian membantu perkembangan sikap positif terhadap sekolah dan mengurangi tingkat ketidakhadiran siswa di sekolah.
  4. keterlibatan dalam kegiatan bermusik/berkesenian secara langsung mempertinggi perkembangan kreativitas.
  5. Pendidikan musik/pendidikan seni memudahkan perkembangan sosial, penyesuain diri, dan perkembangan intelektual.
Dari penjelasan-penjelasan di atas, ternyata pendidikan seni khususnya musik sangat penting untuk perkembangan anak di masa depan. Pendidikan seni tidak lagi sebagai mata pelajaran tambahan yang sewaktu-waktu bisa saja dihilangkan. Bukankah pendidikan itu merupakan sesuatu hal yang penting untuk menolong siswa dalam mengembangkan intelektual, emosional dan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka? Maka pendidikan musik adalah bagian penting dan efektif untuk mewujudkan hal tersebut, walaupun sampai saat ini masih diragukan dan dikesampingkan.
Pendidikan Musik Dan Kreativitas
Kreativitas mempunyai definisi yang berbeda-beda. Dari perbedaan tersebut menyebabkan pengertian kreativitas tergantung pada bagaimana orang mendefinisikannya. Tidak ada satu definisi pun yang dianggap dapat mewakili pemahaman yang beragam tentang kreativitas. Hal ini disebabkan oleh dua alasan. Pertama, sebagai suatu ”konstruk hipotesis”, kreativitas merupakan ranah psikologis yang kompleks dan multidimensional, yang mengundang berbagai tafsiran yang beragam. Kedua, definisi-definisi kreativitas memberikan tekanan yang berbeda-beda, tergantung dasar teori yang menjadi acuan pembuat definisi.
Definisi-definisi kreativitas dapat dibedakan ke dalam dimensi person, proses, produk dan press. Rhodes menyebutkan keempat dimensi kreativitas tersebut sebagai “the four P’s of creativity”. Definisi kreativitas yang menekankan pada dimensi person dikemukan oleh Guilford:kreativitas berhubungan dengan kemampuan karakteristik kreativitas orangnya. Definisi yang menekankan pada proses yang diajukan oleh Munandar: kreativitas adalah sebuah proses nyata seseorang dalam kefasihan, dan dalam fleksibilitas originalitas berpikir. Barron menekankan pada segi produk, yaitu: kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru kedalam kehidupan.
Masih ada puluhan definisi mengenai kreativitas. Namun pada intinya kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya . Dari definisi tersebut intinya bahwa kreativitas merupakan bagian dari produk kreatif. Produk kreatif tersebut keberadaannya bisa yang baru atau belum pernah ada sebelumnya. Tetapi biasanya orang memandang produk kreatif memiliki sifat baru dan itulah yang menandai produk, proses atau orang kreatif. Sifat baru mempunyai beberapa ciri diantaranya: a) produk yang sifatnya baru sama sekali yang sebelumnya belum ada; b) produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil kombinasi beberapa produk yang sudah ada sebelumnya; dan c) suatu produk yang bersifat baru sebagai hasil pembaruan (inovasi) dan pengembangan (evolusi) dari hal yang sudah ada.
Dalam bidang musik, sama halnya seperti tari, kimia atau matematik, seni rupa, dan puisi, terdapat istilah kreativitas yang spesifik dari macam-macam bidang tersebut. Di dalam puisi, kita berbicara bagaimana menulis atau membuat syair yang indah. Dalam tari, kita berbicara tentang koreografi. Dalam kimia atau matematik, kita berbicara tentang teori, memecahkan masalah atau eksperimen. Dalam seni rupa, kita berbicara tentang gambar, sketsa, warna, dan pahatan. Dalam musik, kita berbicara tentang bunyi, membuat atau mencipta, improvisasi, arransemen, penyajian dan sebagainya. 
Mozart adalah seorang komponis yang banyak membuat atau menciptakan komposisi musik, diantaranya Sonata. Apa arti istilah kreatif dalam mencipta suatu komposisi musik tersebut? Kenapa menggunakan istilah kreativitas dalam membuat komposisi musik?
 Seperti  yang telah diungkapkan oleh Elliot (1995), bahwa menggambar, menulis, berbicara, bernafas dan sebagainya merupakan istilah analogi kreativitas yang sederhana, karena menurut Elliot hal tersebut dikontrol secara individual oleh individu tersebut. Tetapi apakah kreativitas ini yang kita maksud ketika Mozart menciptakan komposisi musik? tentu saja tidak bukan!. Menurut Elliot (1995), kreativitas mempunyai hubungan dengan produk yang tangible. Jadi dalam konteks Mozart, kita menggunakan istilah kreativitas yang berhubungan dengan produk yang tangible, yakni adanya komposisi musik Sonata.
Menggambar, menari, membuat komposisi musik merupakan aktivitas manusia yang dapat diidentifikasi, sama halnya ketika kita naik angkot, makan, mandi dan sebagainya. Tetapi menurut Dedi Supriadi (1994) dan Elliot (1995), contoh kreativitas tidak mudah untuk diungkapkan begitu saja, karena kreativitas sifatnya relatif dan tidak bisa diukur. Apalagi dalam mengidentifikasi kreativitas manusia, dalam prosesnya kita menilai sesuatu yang “pantas” yang telah dibuat orang. Seperti yang telah dijelaskan pada pengertian-pengertian kreativitas di atas termasuk Elliot, kreativitas yaitu membuat atau mengerjakan sesuatu yang hasilnya merupakan produk yangtangible yang mempertimbangkan nilai, kegunaan, dan sesuatu yang luar biasa.
Implikasinya terhadap pendidikan, bahwa pendidikan musik merupakan sarana kreativitas anak, agar dimasa depan anak dapat berpikir konvergen atau berfikir menuju ke suatu jawaban khusus berdasarkan informasi yang diberikan. Kemudian melalui pendidikan musik anak dapat berpikir divergen atau anak mempunyai pemikiran yang menimbulkan berbagai macam alternatif jawaban terhadap suatu persoalan.

http://dikmusik.wordpress.com/2009/02/19/manfaat-pendidikan-musik-bagi-anak/
sumber: 

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates